Karomah Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) dalam Kisah Beras dan Pasir

Karomah Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) dalam Kisah Beras dan PasirKaromah yang dimiliki oleh Sunan Gresik atau Sunan dengan nama asli Maulana Malik Ibrahim ini didapatkan saat beliau tengah meyebarkan agama Islam di Tanah Jawa. Kisahnya bermula ketika beliau sedang melakukan perjalanan dakwah di sebuah dusun yang bertanah subur dan penuh berkah. Di dusun inilah Syekh Maulana Malik Ibrahim singgah dalam suatu rumah yang merupakan rumah seorang yang amat kaya namun begitu kikir. Karena sifat kekikiran dan si pemilik rumah inilah yang membuat Syekh Maulana Malik Ibrahim ingin menemui si pemilik rumah yang ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah murid beliau sendiri.

Sifat kikir dan serakah yang dimiliki oleh muridnya ini mengundang Sunan Gresik untuk menasehati. Menurut warga sekitar dusun tersebut, sang pemilik rumah selalu menimbun beras yang jumlahnya berton-ton kilogram dan ia tak sekalipun pernah membaginya kepada kaum miskin di dusun tersebut. Halaman rumah serta pekarangannya yang begitu luas, disanalah berton-ton beras itu disusun dan ditata sedemikian rupa tanpa adanya keinginan untuk membaginya barang sedikitpun. Beras tersebut memang hasil ia bertani, hasil kerja kerasnya membajak dan menggarap sawahnya sendiri. Namun, apakah ini alasan yang tepat untuk bersikap kikir dan serakah hingga ia lupa untuk bersedekah?

Di rumah sang murid tersebut Sunan Gresik memang disambut dengan baik dan ramah. Hidangan yang diberikanpun begitu enaknya, jamuan yang baik dari istri si pemilik rumah. Belum sempat Sunan Gresik menyicipi hidangan tersebut, datanglah seorang pengemis yang berpakaian compang camping. Seorang perempuan renta yang sehari-harinya meminta-minta itu datang langsung ke hadapan orang kaya yang kikir itu. Pengemis itu berkata, “Tuan yang baik, bolehkah saya meminta sedikit makanan. Sudah beberapa hari ini saya tidak makan, saya lapar sekali tuan. Atau, bila anda berkenan saya ingin meminta sedikit saja beras yang tuan punya. Saya mohon belas kasihan anda Tuan, semoga Tuhan selalu memberikan anda rezeki yang melimpah” ujar si perempuan renta tadi. Sambil melirik tumpukan kantong beras di halaman, pengemis tua itu terus merengek meminta sedekah.

 

“Beras? Mana beras? Yang dikarung itu yang kamu maksudkan? Maaf itu bukan beras. Kami tidak punya beras, yang ditumpukan itu pasir bukan beras” jawab si orang kaya itu

Pengemis itu kian putus harapan, ia segera beranjak pergi dari rumah itu dengan penuh rasa sedih dan langkah yang tertatih. Kejadian ini menjadi bukti yang disaksikan secara langsung oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim. Gunjingan orang-orang selama ini terhadap muridnya adalah benar adanya, bukan hanya sekedar desas-desus yang berniat menjelekkan nama muridnya. Dalam hatinya Sunan Gresik berdoa, dan ia pun bergumam dalam hatinya. Pembicaraan yang tadi sempat tertunda oleh datangnya pengemis pun dilanjutkan kembali. Namun tiba-tiba pembicaraan antara murid dan guru itu terhenti oleh teriakan sang pembantu orang kaya tersebut,

“Tuan, tuan!!! Benar-benar aneh Tuan, celaka Tuan, celaka!” Teriak si pembantu

“Apanya yang celaka? Hmmm? Ada apa?” Tanya si orang kaya dengan penuh rasa kaget.

“Begini Tuan, ketika saya mengecek beras yang ada di halaman ternyata semua kantong itu isinya pasir Tuan, bukan beras lagi. Berasnya sudah berubah jadi pasir Tuan. Semua saya cek, dan isinya pasir semua. Semua beras yang ada disini berubah jadi pasir Tuan.” Jawab pembantu itu dengan penuh rasa takut sekaligus terkejut gemetaran.

Tentu saja orang kaya kikir itu kaget dan tercengang. Segera ia bergegas pergi, beranjak dari tempat duduknya untuk membuktikan omongan pembantunya. Dihampirinya beras-beras miliknya, ia cek satu persatu tiap kantong. Dan benar, semua beras-beras itu telah berubah menjadi pasir. Seketika itu tubuhnya lemas lunglai tak berdaya, serta merta ia menangis.

Melihat kejadian ini Syekh Maulana Malik Ibrahim menghampiri muridnya dan bertanya, “Mengapa kamu menangisinya? Bukankah tadi kamu sendiri yang mengatakan kepada si pengemis bahwa karung itu berisi pasir, bukan beras?”

Ampun Sunan, maafkan saya, Saya mengaku salah. Saya berdosa!” Si murid meratapi kesalahannya dan bersimpuh di kaki Syekh Malik.

Syekh Malik tersenyum, “Alamatkan maafmu kepada Allah dan pengemis tadi. Kepada merekalah permintaan maafmu seharusnya kau tujukan,” ujar Syekh Maulana Malik lagi.

Penyesalan langsung mendera orang kaya itu. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri yang telah berbuat kezaliman. Kepada Syekh Malik ia berjanji akan mengubah semua perbuatannya. Ia mohon juga agar berasnya bisa kembali lagi seperti semula. Kekikirannya ingin ia buang jauh-jauh dan menggantinya dengan kedermawanan.

Syekh Malik kembali berdo’a, dan dengan izin Allah, beras yang telah berubah menjadi pasir itu menjadi beras kembali. Hidayah dan kekuatan yang berasal dari Allah memungkinkan kejadian itu.

Orang kaya tersebut tidak membohongi lisannya. Ia berubah menjadi dermawan, tak pernah lagi ia menolak pengemis yang datang. Bahkan ia mendirikan mushalla dan majelis pengajian serta fasilitas ibadah lainnya.

1,024 kali dilihat, 12 kali dilihat hari ini

Artikel Lainya:

  • karomah sunan maulana malik ibrahim
  • keistimewaan sunan gresik
  • kelebihan sunan gresik
  • karomah maulana malik ibrahim
  • Murid sunan gresik
  • kehebatan syekh maulana malik ibrohim
  • kelebihan sunan malik ibrahim
  • kisah asli sunan gresik
  • kisah karomah sunan maulana malik ibrahim
  • murid maulana malik ibrahim
  • keistimewaan sunan gresil
  • keistimewaan sunan gresik kisah pasir dan beras
  • https://www walisembilan com/karomah-sunan-gresik-maulana-malik-ibrahim-dalam-kisah-beras-dan-pasir/
  • karomah syekh maulana malik ibrahim
  • karomah sunan gresik giri ampel
  • karomah sunan giri
  • karomah sunan drajat
  • kar6ah sunan drajat dan karomah sunan gresik/
  • ilmu hikmah sunan gersik
  • Sunan gresik dan kehebatannya

Tinggalkan Balasan