Keutamaan Membaca Istighfar, Kisah Nyata Terkabulnya Segala Doa

Keutamaan Membaca Istighfar, Mengabulkan Segala Hajat Secara Nyata – Salah satu amalan yang bisa mempercepat datangnya rezeki dan mengabulkan segala hajat adalah istighfar.

Selain amalan-amalan sunnah seperti shalat tahajud, shalat dhuha, bersedekah, dan membaca shalawat, istighfar juga memiliki khasiat pengabul hajat yang cespleng.

Bahkan, selain mengabulkan hajat, istighfar juga menjadi sebab diturunkannya hujan di masa kering, bertambahnya harta dan keturunan, serta kelancaran rezeki-rezeki lainnya.

Kisah Nyata Keutamaan Membaca Istighfar yang Mengabulkan Semua Hajat

Pada zaman ulama salaf dulu, hiduplah seorang ulama besar bernama Imam Ahmad bin Hanbal (pemimpin mazhab Hambali).

Berkat kedalaman ilmu agamanya, namanya harum tercium hingga ke pelosok negeri.

Semua orang tahu nama itu, namun belum tentu tahu yang mana sosoknya.

Alkisah, suatu ketika, di usianya yang sudah senja, Imam Ahmad bin Hanbal merasakan kegelisahan yang luar biasa.

Ia sendiri tak tahu sebab musababnya.

Maka, ia putuskan untuk berjalan ke mana pun sesuai dengan kata hatinya.

Tak terasa, sampailah ia di sebuah tempat di pelosok negeri di mana tak ada satu pun orang yang mengenalinya kecuali hanya namanya saja.

Di sana, Imam Ahmad mampir ke sebuah masjid dan memutuskan untuk tidur di dalamnya saat hari sudah gelap.


BACA JUGA:


Pertemuan yang Tak Disangka karena Keutamaan Istighfar

Sayang sekali, Imam Ahmad tak mendapat izin untuk tinggal di masjid itu.

Karena tak ada yang mengenalinya, ia malah diusir oleh penjaga masjid.

Ahmad bin Hambal kemudian ditolong oleh seorang warga yang tinggal di sekitar masjid, seorang pembuat roti.

Usianya tampak sebaya dengan Imam Ahmad, tampak rambutnya telah beruban.

Dengan ramah, si tukang roti itu menampung Imam Ahmad di rumahnya, tanpa tahu siapa sesungguhnya tamunya itu.

Di dalam rumah, setelah menjamu makan tamunya, si tukang roti meminta izin melanjutkan pekerjaannya mengaduk adonan roti.

Imam Ahmad memerhatikan pekerjaan si tukang roti.

Sepanjang melakukan pekerjaannya, si tukang roti terus menerus melafalkan istighfar dengan suara lirih.

Namun, Imam Ahmad masih bisa mendengarnya.

Beliau pun bertanya pada sang tuan rumah, “Sudah berapa lama Anda begini?”

Si tukang roti balik bertanya, “Maksud Anda?”

“Sudah berapa lama Anda mendawamkan istighfar sambil mengerjakan roti-roti Anda?”

“Oh, sejak saya masih remaja, saat mulai bekerja membuat roti,” jawab si tukang roti.

Imam Ahmad terkagum, lalu bertanya lagi, “Fadhilah apa yang telah Allah berikan kepada Anda karena keistiqomahan Anda membaca istighfar?”

Sang tukang roti menjawab sambil tersenyum, “Alhamdulillah.

Selama saya mendawamkan istighfar, tidak ada satu pun hajat saya kecuali semuanya dikabulkan oleh Allah SWT.

Namun, hanya satu hajat saya yang sampai hari ini belum dikabulkan oleh Allah.”

“Apa itu?” tanya Imam Ahmad.

“Saya punya keinginan bertemu dengan seorang ulama besar, bernama Imam Ahmad bin Hanbal.

Tapi saya tak tahu bagaimana cara menemuinya,” jawab si tukang roti.

Mendengar itu, Imam Ahmad terharu dan menitikkan air mata.

“Masya Allah. Maha benar Allah, dan benarlah baginda Rasul.

Akulah Imam Ahmad bin Hanbal yang ingin engkau temui!

Aku tak tahu mengapa hatiku tiba-tiba gelisah.

Lalu aku mencoba berjalan tak tentu arah mengikuti keinginan hatiku.

Akhirnya aku sampai di wilayah ini dan berjumpa denganmu.”

Si tukang roti terperanjat.

Ia segera menghambur memeluk Imam Ahmad erat-erat. Keduanya menangis penuh haru dan bahagia.

Sungguh dahsyat keutamaan istighfar bagi yang mau istiqomah mengamalkannya.