kisah wali allah yang menyamar

Kisah Wali Allah yang Menyamar Menjadi Pemabuk dan Pezina

Kisah Wali Allah yang Menyamar Menjadi Pemabuk dan Pezina – Seorang wali atau kekasih Allah biasanya sangat tersembunyi identitas kewaliannya. Ia tampak biasa saja di mata banyak orang, namun di balik itu semua, sangat dekat dengan Allah SWT.

Di zaman kekhalifahan Sultan Murad IV di abad ke-17, ada seorang pria yang sering keluar masuk tempat hiburan tiap malam. Di sana, ia selalu terlihat membeli arak dan rutin menemui para pelacur. Alhasil, Ia pun menjadi buah bibir di kalangan kaum muslimin dengan tuduhan bermacam-macam.

Selama beberapa tahun pria itu tetap dengan aktivitas rutinnya. Namun tibalah di suatu malam, pria tersebut ditemukan mati di jalan. Anehnya, tak ada masyarakat sekitar yang mau mengurus jenazahnya, apalagi menshalatinya.

Masyarakat sudah lama mengenal pria itu akan kegemarannya di tempat hiburan malam, yaitu membeli arak dan menemui pelacur.

Beberapa saat kemudian, sekelompok orang melintasi jalan tempat jasad pria itu tersungkur. Pemimpin kawanan itu bertanya, “Mengapa tak ada yang mengurus jenazah orang ini?”

Warga sekitar menjelaskan, “Dia seorang ahli maksiat. Setiap malam minum arak dan bersenang-senang dengan pelacur.”

“Bukankah dia ini muslim, umat Nabi Muhammad SAW juga? Kalau kalian tak mau, tunjukkan mana rumahnya. Biar kami bawa jenazahnya pulang,” kata pimpinan kawanan yang lewat itu.


BACA JUGA:


Di Balik Aktivitas Malam Si Mayit Semasa Hidup

Sekelompok orang ini kemudian membawa si mayit pulang ke rumahnya.

Istrinya menyambutnya dengan tangis pilu. Kemudian ia memberi tahu tamu-tamunya bahwa suaminya adalah orang yang saleh, jauh dari apa yang disangkakan orang.

Pimpinan kelompok ini terkejut. Bagaimana mungkin?

Kemudian sang istri menceritakan kebiasaan si mayit. Cerita sang istri, suaminya pergi ke tempat hiburan tiap malam dan membeli arak lalu membuangnya di toilet.

Ia juga menemui para pelacur untuk memberi mereka uang supaya tidak jadi melacur. Setelah sampai rumah, suaminya selalu terlihat puas dan mengatakan, “Alhamdulillah, aku telah meringankan dosa kaum muslimin.”

“Aku pernah bilang padanya, ‘Kalau begini terus, tak ada orang yang mau menshalati jenazahmu’. Dan ternyata benar,” kata sang istri pada tamunya.

Lalu ia melanjutkan, “Tapi dia menjawab, ‘Jangan khawatir. Yang menshalatkan aku nantinya adalah khalifah umat Islam, para ulama, dan para wali Allah’.

Pimpinan tamu itu terperangah. Sesaat kemudian, katanya, “Suamimu benar! Aku adalah Sultan Murad, khalifah umat Islam.

Tadinya hatiku gelisah entah mengapa. Lalu kuputuskan untuk berjalan-jalan hingga sampai di sini dan menemukan suamimu.

Kalau begitu, mari kita urus jenazah suamimu. Aku akan panggil para ulama untuk menshalati jenazahnya.”

Hikmah Kisah

Dari kisah tersebut, kita bisa mengambil mutiara yang tersembunyi. Bahwa, tidak semua orang yang terlihat buruk di mata kita, buruk juga di hadapan Allah.

Seringkali orang yang di mata manusia tampak buruk di mata Allah justru sebaliknya. Karena itu, hendaknya kita lebih memperbanyak berbaik sangka kepada orang lain.

Dengan demikian, artinya kita melatih batin kita untuk tetap bersih, bersinar, dan terbuka. Mata batin yang terbuka akan membawa kita pada kedamaian dan ketenteraman hati. Manfaat lainnya bisa Anda dapatkan di ilmumatabatin.com