Kontroversi Menikah Di Bulan Muharram Menurut Islam dan Kejawen

Kontroversi Menikah Di Bulan Muharram Menurut Islam dan Kejawen Bulan sebelum Muharram atau Suro yaitu Bulan Dzulhijjah dimana di bulan Besar atau Dzulhijjah itulah banyak kebahagiaan yang dirasakan oleh umat Muslim. Mengapa demikian? Setidaknya di bulan Dzulhijjah ada 3 perayaan yang umumnya dilakukan. Pertama, adalah datangnya bulan haji dimana pada bulan itulah banyak jamaah haji yang dapat menunaikan ibadahnya ke tanah Suci. Tentu berkahnya akan sangat berlimpah.

Kemudian yang kedua, perayaan Idul Adha atau Hari Raya Qurban dimana banyak sekali penyembelihan hewan kurban yang dagingnya bisa dinikmati bersama. Tentu bagi orang yang kurang mampu kesempatan memakan daging gratis dan dalam jumlah yang lumayan banyak adalah di hari raya Idul Adha.

Ketiga, adalah datangnya bulan pernikahan dan hajat. Kita lihat di masyarakat begitu banyak orang melangsungkan pernikahan dan hajat besar lainnya pada bulan Dzulhijjah. Nah, bagaimana kalau menikah di bulan Muharram menurut Islam? Boleh atau tidak?

Menikah Di Bulan Muharram, Islam Vs Kejawen?

Masyarakat Jawa tentunya meyakini bahwa petaka besar akan mengancam kehidupan rumah tangga seseorang apabila pernikahan dilangsungkan pada bulan Suro atau bulan Muharram. Namun Islam tidak membenarkan hal itu. Islam menganggap bahwa bulan Suro adalah bulan yang baik untuk melangsungkan hajat.

Terbukti banyak amalan bulan suro yang bisa dilakukan untuk meraih berkah. Hal ini karena Muharram adalah bulan penuh keberuntungan sehingga diajarkanlah 12 amalan Bulan Suro.

BACA JUGA : Amalan Bulan Muharram Untuk Mendapatkan Berkah dan Keberuntungan

Sekali lagi bahwa Menikah di Bulan Muharram menurut Islam adalah diperbolehkan. Oleh karenanya mari kita bahas dari dua sisi. Versi Islam dan Versi Kejawen.

Menikah di Bulan Muharram Menurut Adat Jawa

Dalam keyakinan masyarakat Jawa, bulan Suro adalah bulannya priyayi. Hanya kalangan keraton yang boleh melangsungkan hajat di bulan Suro khususnya hajat pernikahan. Bahkan, banyak yang menyampaikan alasan yang tidak masuk akal. Misalnya, pada bulan Surolah penguasa Laut Selatan yaitu Nyi Roro Kidul, melangsungkan hajat pernikahan. Keyakinan turun-temurun itulah yang membuat orang-orang enggan melangsungkan hajat di bulan Muharram.

Padahal menikah di bulan Suro atau Muharram menurut Islam adalah sah sah saja atau diperbolehkan. Sejatinya, bulan Muharram adalah bulan mulia di antara bulan-bulan lainnya dalam kalender Hijriyah. Bukti bulan Suro dianggap baik untuk melangsungkan pernikahan adalah penggalan ayat dalam surat Al Quran berikut ini :

Allah SWT berfitman, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci) ….” (QS at-Taubah [9] : 36).

Nah, apakah anda masih meragukan menikah di bulan Suro menurut Islam? Jadi yakin saja pada hajat anda. Anda melakukan hajat yang baik yaitu menikah sehingga Allah pasti memberikan RIDHO – NYA pada anda. Niat baik pasti di berkahi –NYA. Demikian penjelasan mengenai menikah di bulan Muharram menurut Islam dan juga menurut adat Jawa.

Jika anda merasa takut untuk melangsungkan pernikahan di bulan SURO maka anda bisa melakukan ruwatan buang Sial untuk mendatangkan keberuntungan di hari baik pernikahan anda meski dilangsungkan di Bulan Suro.

Informasi mengenai ruwatan bulan SURO untuk pernikahan bisa anda baca selengkapnya di bawah ini!

 

2,068 kali dilihat, 16 kali dilihat hari ini

Artikel Lainya:

  • bulan suro menurut kejawen
  • yang tidak boleh dilakukan di bulan suro
  • bulan muharram menikah
  • bulan suro buat khodam pendamping
  • menikah di bln muharam
  • keutamaan menikah di bulan muharram
  • yang tidak boleh dilakukan ketika suro
  • yang tidak boleh di lakukan di bulan suro
  • www bulan muharom kejawen
  • syekh abd qodir jailani ketika bulan muharom
  • petaka membangun rumah dbulan suro
  • menikah di bulan syuro atau muharrom
  • menikah di bulan muharram menurut islam
  • menikah di bulan muharram
  • menikah di
  • yang tidak boleh dilakukan sebelum suro

Tinggalkan Balasan