Wejangan Sunan Kalijaga dalam Tembang Lir Ilir dan Maknanya

Wejangan Sunan Kalijaga dalam Tembang Lir Ilir dan Maknanya – Sunan Kalijaga atau dalam istilah Jawa dikenal dengan nama Sunan Kalijogo, adalah seorang pendakwah melegenda yang ada di Pulau Jawa. Bahkan sejarahnya sudah sangat melegenda. Beliau termasuk anggota walisongo yang menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah. Sosok beliau dikenal sebagai orang yang sangat fasih berdzikir, bahkam dzikir nya ini diajarkan pada setiap muridnya. Baik dzikir lisan, dzikir nafas , dzikir kolbu, dzikir ruh, dzikir perbuatan dll.

Ada sebuah peninggalan Sunan Kalijaga yang amat dikenal sampai sekarang bahkan sering dinyanyikan, yaitu berupa lagu Lir Ilir. Lagu ini menjadi wejangan Sunan Kalijaga bagi seluruh umat Islam yang ada di dunia ini. Wejangan Sunan Kalijaga ini memiliki arti yang mendalam bila kita tafsirkan. Adapun lirik lagu Lir Ilir sendiri ditulis dalam bahasa Jawa, dimana lirik aslinya berbunyi :

Lir-ilir, lir-ilir, tandure wus sumilir

Tak ijo royo-royo, tak sengguh penganten anyar

Cah angon-cah angon, penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu yo penekno, kanggo mbasuh dodotiro

Dodotiro-dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore

Mumpung jembar kalangane, mumpung padhang rembulane

Yo surak-o… Surak hiyo…

Artinya dalam Bahasa Indonesia :

Sayup-sayup, Sayup-sayup bangun (dari tidur).

Tanaman-tanaman sudah mulai bersemi, demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru.

Anak-anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu, walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian.

Pakaian-pakaian yang koyak disisihkan.

Jahitlah benahilah untuk menghadap nanti sore.

Selagi sedang terang rembulannya.

Selagi sedang banyak waktu luang.

Mari bersorak-sorak ayo…

Wejangan Sunan Kalijaga ini sangat melegenda hingga saat ini, bahkan dijadikan dasar dakwah bagi beberapa ulama. Adapun jika ditelaah lebih jauh ada makna mendalam dari lagu ini, diantaranya :

Ayo bangkit Islam telah lahir.

Hijau sebagai simbol agama Islam kemunculannya begitu menarik ibarat pengantin baru.

Pemimpin yang mengembala rakyat kenalah Islam sebagai agamamu.

Ia ibarat belimbing dengan 5 sisi sebagai 5 rukun Islam.

Meskipun sulit dan banyak rintangan sebarkanlah ke masyarakat dan anutlah.

Guna untuk mensucikan diri dari segala dosa dan mensucikan aqidah.

Terapkanlah Islam secara kaffah sampai ke rakyat kecil (pinggiran).

Perbaikilah apa yang telah menyimpang dari ajaran Islam untuk dirimu dan orang lain guna bekal kamu di akhirat kelak.

Mumpung masih hidup dan selagi masih diberikan kesempatan untuk bertobat.

Dan berbahagialah semoga selalu dirahmati Allah.

Lalu, wejangan Sunan Kalijaga ini apakah memiliki filosofi atau makna mendalam? Tentu saja karena wejangan ini adalah sebuah nasihat yang diberikan Sang Sunan bagi kita semua sebagai umat manusia.

Filosofi Wejangan Sunan Kalijaga dalam lirik Lagu Lir Ilir

Lir Ilir, lir ilir tandure wus sumilir, Sayup-sayup bangun (dari tidur), tanaman-tanaman sudah mulai bersemi.

Filosofi : Wejangan Sunan Kalijaga ini mengingatkan agar orang-orang Islam segera bangun dan bergerak karena saatnya telah tiba. Bagaikan tanaman yang telah siap dipanen, demikian pula rakyat di Jawa saat itu (setelah kejatuhan Majapahit) telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam dari para wali. Diri kita masing-masing dengan berdzikir maka ada sesuatu yang dihidupkan.

Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru.

Filosofi : Wejangan Sunan Kalijaga menandakan warna Hijau yang menjadi simbol warna kejayaan Islam, dan agama Islam disini digambarkan seperti pengantin baru yang menarik hati siapapun yang melihatnya dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang sekitarnya. Ada juga penafsiran yang mengatakan bahwa pengantin baru maksudnya adalah raja-raja jawa yang baru masuk Islam.

Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi. Anak-anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu.

Filosofi : Wejangan Sunan Kalijaga ini menyebut anak gembala adalah para pemimpin. Dan belimbing adalah buah bersegi lima, yang merupakan simbol dari lima rukun islam dan sholat lima waktu. Jadi para pemimpin diperintahkan oleh Sunan untuk memberi contoh kepada rakyatnya dengan menjalankan ajaran Islam secara benar. Yaitu dengan menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu.

Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro. Walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian Dodot

Filosofi : Pakaian Dodot adalah sejenis kain kebesaran orang Jawa yang hanya digunakan pada upacara-upacara atau saat-saat penting. Dan buah belimbing pada jaman dahulu, karena kandungan asamnya sering digunakan sebagai pencuci kain, terutama untuk merawat kain batik supaya tetap awet. Dengan kalimat ini Sunan memerintahkan orang Islam untuk tetap berusaha menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu walaupun banyak rintangannya (licin jalannya). Semuanya itu diperlukan untuk menjaga kehidupan beragama mereka. Karena menurut orang Jawa, agama itu seperti pakaian bagi jiwanya. Walaupun bukan sembarang pakaian biasa.

Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir. Pakaian-pakaian yang koyak disisihkan.

Filosofi : Wejangan Sunan Kalijaga mengandung makna bahwa saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang meninggalkan ajaran agama mereka sehingga kehidupan beragama mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek.

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. Jahitlah benahilah untuk menghadap nanti sore.

Filosofi : Seba artinya menghadap orang yang berkuasa (raja/gusti), oleh karena itu disebut ‘paseban’ yaitu tempat menghadap raja. Disini Sunan memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan beragamanya yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran agama Islam secara benar, untuk bekal menghadap Allah SWT di hari nanti.

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. Selagi sedang terang rembulannya, selagi sedang banyak waktu luang

Filosofi : Selagi masih banyak waktu, selagi masih banyak kesempatan, perbaikilah kehidupan beragamamu dan bertaubatlah.

Yo surako, surak hiyo. Mari bersorak-sorak ayo…

Filosofi : Wejangan Sunan Kalijaga ini menyerukan kita untuk bergembiralah, semoga kalian mendapat anugerah dari Tuhan. Disaatnya nanti datang panggilan dari Yang Maha Kuasa nanti, sepatutnya bagi mereka yang telah menjaga kehidupan beragama-nya dengan baik untuk menjawabnya dengan gembira.

Itulah makna mendalam dari wejangan Sunan Kalijaga dalam lagu Lir Ilir yang ternyata adalah wujud Dzikir Sunan Kalijaga yang membawa pada kesejahteraan dan kemakmuran hidupnya. Barakallah. Semoga bermanfaat.

1,917 kali dilihat, 39 kali dilihat hari ini

Artikel Lainya:

  • www nasehat sunan bonang dalam mencari rezeki
  • wejangan sunan kalijaga bahasa jawa
  • wejangan sunan kalijaga
  • contoh doa sunan kalijaga
  • wejangan ilir ilr
  • suluk lir ilir sunan kali jaga
  • tembang sunan kalijaga dan maknanya
  • Tembang wali songo
  • wejangan jawa dan simbol nya
  • wejangan sunan bonang
  • wejangan wali
  • simbol lagu lir ilir
  • nasehat sunan kalijaga bahasa jawa
  • maknane 10 wejangan sunan kalijaga basa jawa
  • donlot tembang dakwah sunan kali jaga com
  • ibarat blimbing
  • ilmu sunan kali jaga dan lir ilir
  • kontroversi lagu lir ilir
  • lagu jawa yang dinyanyikan sunan kalijaga
  • lir iler wejangan sunan kali jaga
  • lirik lagu sunan kalijaga serta sunan gunung jati merekalah wali songo kekasih rabbul izzati
  • makna lagu lir ilir menurut sunan kalijaga
  • makna tembang lir ilir
  • makna wujud menurut sunan kali jaga
  • zikir sunan kalijaga lir ilir

Tinggalkan Balasan